Sabtu, 16 April 2016

Selamat pagi,
Masihkah sendu memelukmu mesra?
mengabaikan semua tawa yang menyapamu amat manja,
hingga harimu terlihat begitu-begitu saja.

Selamat siang,
Tidakkah kamu penasaran akan jalan asing
sayang, itu membentang teramat panjang
tepat di depan bola mata tajammu
Ah aku lupa,
jiwamu itu hanya mampu membisu;
berhati-hatilah jika tiba-tiba layu.

Selamat malam,
Matahari yang kau campakkan tadi siang sudah lama pulang,
namun kau masih saja diam tanpa berlalu-lalang,
kini hanya kekosongan angan yang mendekapmu dalam petang.

Selamat ualang tahun!
-untuk yang kesekian kalinya.
Malam tadi, lamanya waktu yang Tuhan berikan
untukmu di dunia genap satu tahun lebih lama dari sebelumnya,
membuat durasimu di semesta terpotong semakin pendek.
Gambarlah lagi garis start menuju dunia kerenmu
yang lebih keren dari sebelumnya,
sebelum kau tersandung-tertatih-terhempas-tertidur
-hingga lupa,
bagaimana caranya untuk bangun.
Minta pada Tuhan apapun yang kau mau,
ku bagi satu saja rahasia padamu;
Ia amat murah hati.
Jangan takut lagi,
Dia  bersamamu, bahkan ketika kamu lupa siapa kamu.
Katakan pada dirimu,
kamu akan berdiri lagi ketika kamu terjatuh,
mencoba lagi setiap kali gagal,
se-muak apapun, kamu akan tetap menyulapnya menjadi nyata

Sebab,
setiap sel dari dirimu dilahirkan untuk menang-tertawa-bahagia,
tanpa merusak kebahagiaan siapapun.


 16 April 2016

Senin, 04 Januari 2016

Bergandengan erat, membelah kota dengan segenap-ganjil pesonanya.
Meninggalkan jejak-jejak kecil pada deretan jalan setapak.
Kota ini; penuh teriakan nafsu bisu, menggonggong tanpa suara.
Aku sudah muak diperkosa waktu, menjajakan diri dengan hal-hal jemu,
atau sekedar memanfaatkan keluguanmu? lagi dan lagi.
Munafik? tidak sama sekali. Kotamu ingin selalu menjadi tempatku pulang,
Seperti ada besi raksasa disana, lalu aku menjadi magnet kecilnya.

Sekali lagi,
aku ingin selalu pulang ke kotamu, memakamkan rindu sebelum dia bertambah mekar,
mengemas oksigen pesonanya sebanyak paru-paru kecilku bisa merampasnya.
menetap selalu di kotamu, lalu berkencan dengan waktu
hingga lupa; ini bukan kotaku.

Jagad raya memang selalu menawarkan ribuan titik yang begitu gemerlap,
namun seperti matahari yang menundukan hujan lalu menjadikannya pelangi;
kotamu terlalu terang namun tak menyilaukan, menimbulkan dentuman kerinduan namun tak membuat dadaku kegaduhan.
Seperti kata tuan capung; kotamu adalah kotaku, kota kita bersama.

Dirgahayu 259 tahun untuk kota kita. Maaf terlambat.

Kamis, 10 September 2015

Ingatkah kalian? Saat kita merampas waktu dengan menatap laptop di kamar, 
menikmati setiap nada yang keluar darinya, melihat putaran gambar yang menimbulkan gelakan tawa.
Atau saat kita memasak bersama? dengan hasil yang selalu diperebutkan jumlahnya? memasak popcorn yang selalu habis sebelum film dimulai.

Kita, menggunakan minggu untuk berenang atau sekedar menikmati suara teriak-teriakan kalian di ruang karaoke, tempat karaoke dimana kita harus merelakan uang jajan seminggu lamanya untuk waktu perjamnya. Terkadang kita juga menghilafkan waktu untuk memahami angka matematika dan bahasa inggris  dengan musik iringan yang selalu berebut menyetelnya, lalu kosakata dan rumus hanya berlalu lalang begitu saja.
   
Ingat saat hujan? Seragam masih membungkus badan kita, dengan hawa dingin kita mengelilingi kasur dan bergumam tentang tragedi-tragedi menyeramkan, mengimajinasikan hal-hal luar biasa, atau sekedar bercerita hal-hal absurd di kafe langganan. 
Ingat saat senja menyapa dengan manja? kaki-kaki kecil kita  mengayuh sepeda ontel memutari komplek asing hingga ahirnya terjebak kemacetan.

Entah berapa ratus menit yang sempat kita tinggalkan di kota yang jaraknya ratusan kilometer dari tempat biasa kita berdiri, menjadi si bolang di kota orang, menjelajahi pesona tempatnya yang luar biasa lalu menyapa bule-bule tampan di sepanjang jalan haha.
Menulis tingkah laku kalian dengan acuan putaran memori yang selalu menjelma di depan mata memang tak akan ada habisnya,

Sekarang kita melangkah dengan jalan yang dulu sempat kita perbincangkan saat pulang sekolah dengan mulut penuh jajanan di jalan lintas pendopo, memakai seragam sekolah menengah pertama dengan baju yang terkadang keluar, nakal. 
Sekarang masing-masing dari kita sudah melangkah atau bahkan berlari pada pilihan mimpi kita, berada pada titik-titik jagad raya yang berbeda, terpisah dengan jarak yang semakin lama seolah-olah semakin berlipat ganda, terkadang ingin rasanya memungut jejak-jejak tawa di sepanjang tempat kita meninggalkannya. 
Hey, ayo kita berkumpul suatu hari nanti di masa depan ketika kita sudah berhasil menggegam mimpi-mimpi kita, hari dimana  kita akan terlihat hebat, tak lagi menjadi anak nakal yang selalu merengek minta uang jajan pada ayah kita. Aku rindu? Ah rindu memang selalu punya cara untuk berkembang biak memenuhi rongga dada dengan cepatnya.

Jumat, 28 Agustus 2015


Post omong kosong ini sebenernya nggak penting, dan nggak istimewa, ngetiknya sama jari, ngejanya make mulut, sambil nafas lewat idung, biasa banget. Tulisan orak arik kini mending nggak usah dibaca, kok masih ngeyel? yowis terserah padamu, aku begini adanya ououooo, cukup. Daripada sebulan cuman ngepost sekali, nanti dikirain pelit yo mending anak soleh ini nulis aja, ya nggak ya nggak?*kibas bulu ketek*

Jadi hari ini cerah, tapi sayang tiba-tiba mendung. Hari ini hari kamis. miss. miss. oke cukup.
Jadi hari ini lagi bebel-bebelnya sama mamas tugas yang dari jam pertama udah ngajakin apel di ruang guru, yah mau gimana lagi namanya juga udah sayang, aku tak kuasa menolaknya. Namanya anak ipa tugas itungannya nggak kira-kira men, untung kalo cuman satu ditambah lima sama dengan titik-titik, nah ini tugasnya banyak banget rumusnya, otak milik cucu Albert Einstein ini yang pas-pasan kan jadi bingung mau make rumus yang mana, kalo make yang ini nanti yang itu marah, kalo make yang itu nanti yang ini cemburu, kalo cemburu bisa sakit hati. Kalo sakit hati nanti lama-lama depresi, abis depresi sudah kuduga pasti bunuh diri. Ah jadi males ngerjain, mending liat kerjaan si bintang kelas yang selalu bersinar, dari pada serba salah milih rumus kan.*hening* Ada PR di jam pertama nggak lupa ngerjain itu kadang menimbulkan efek samping, kaya bikin kepala pusing, dada sakit, mual-mual dan ahirnya dijemput sama keranda. Mual-mual? jangan-jangan aku . . ngomong apa sih gis.

Dan panggilan bel pulang itu adalah sesuatu yang bisa menyulap wajah kucel jadi kembali bersinar, kaya detergen. Amazing. Jadi sore itu rencananya mau langsung pulang, waktu keluar dari lubang kelas malah udah ditungguin sama anak kelas sebelah, wajahnya tiba-tiba bersemu ke orange-orengenan, tak kira dia mau pingsan, aku udah siap siap tak tinggal lari nolongin, eh ternyata muka orangenya itu hasil efek matahari jam empat sore. Yah. Terus sama wajah merona orangenya itu dia minta nebeng buatdianterin ke supermarket, katanya perlengkapan mandinya udah menipis, anak kos oh anak kos~

Abis keluar dari gerbang sekolah, aku nganterin dia ke kosnya dulu, katanya sih cuman mau ngambil uang doang, katanya. Nyampe di kosnya aku disuruh duduk di ruang tamu, abis itu dia masuk kemarnya terus keluar ke dapur, masuk ke kamar terus keluar lagi ke wc, masuk kamar terus keluar ke kamar sebelah. Oh Tuhan kapan ini berahir, abis aku selese ngitungan cicak tak kasat mata di dinding, ahirnya dia kelar ambil uang dan kita berangkat ke supermarket, kita ke supermarket yang agak jauh soalnya disana nyaman, bersih dan yang paling penting lebih murah coy. Aku nemenin dia muterin supermarket 20 menit, dan ternyata dia cuman beli satu barang; shampo, shampo yang mereknya ada di warung sebelah kosnya yang tadi kita lewatin. Kampret. abis itu dia nentengin satu shampo ke kasir, aku nunggu di luar sambil liatin orang ngantri piza, tapi aku nggak pengen piza, bener. Tiga menit dua puluh lima detik kemudian dia keluar dengan senyum merona dan air liur di bibirnya, terus dia nyamperin abang-abang yang jualan piza, balik-balik ke motor dia malah bawanya kebab, hah? oke nggak udah dipikirin. Dia nyodorin kebab beef ke aku, tenkyuu. Ahirnya aku makan itu kebab di tengah keramaian hiruk pikuk kendaraan, di tengah-tengah orang-orang yang masih ngantri beli piza. Keyang! abis itu aku nganterin dia pulang ke sarangnya, dan aku pun pulang kesarangku. sama perut kenyang~

Jumat, 14 Agustus 2015




Tiga tahun yang lalu saat semua masih datar layaknya aroma kopi, saat semua hal terasa begitu mudah, kesana kemari dengan membawa tawa ke dalam riuhnya alam semesta.
Menatap dunia dengan kaki yang berdiri tegap, dengan tangan yang bebas menari di udara, dengan suara yang keluar seenaknya. Hingga pada suatu ketika seseorang yang entah siapa bercerita tentang indahya sebuah goresan di alam semesta, tentang begitu hebatnya rayuan pesonanya, tentang hangatnya aroma nafas penghuninya. Aku terkesima, lalu perlahan aku selalu teringat saat otak ini mulai berhenti bekerja. Suatu goresan di alam semesta, aku harus mendapatkannya.

Tiga tahun yang lalu, bagian dalam kepala ini mulai merangkai rencana-rencana kecil, lalu memerintahkan tangan untuk bergerak lebih banyak dari biasanya, menyuruh mata untuk menatap ke atas lebih tajam dari biasanya, memaksa kaki untuk melangkah lebih jauh dari bisanya, serta melembutkan hati untuk berdoa dan mulut untuk mengamininya.

Tiga tahun yang lalu ketika waktu terus memburu, perlahan-lahan ada banyak hal-hal sepele yang menggangu perhatianku, imajinasi akan keindahannya membuat aku terlena dan lupa cara untuk mengenggamnya. Hingga pada suatu detik kaki ini terhenti, lalu menendang-nendang banyangannya sendiri agar tidak berlari mengikuti rayuan semesta, agar sadar tujuan utamanya.

Tiga tahun yang lalu, untuk pertama kalinya aku menyelipkan namanya di perbincangan kecilku dengan Tuhan, untuk pertama kalinya aku membelalakan mata melihat ke depan, melukis satu goresan dengan kanvas emas di dinding-dinding kepala. Berimajinasi tentangnya di dekapan dinginnya malam, semua terlihat begitu mudah,

Lalu pada suatu waktu di tahun 2014, detik terus berpacu mengantarkan kaki ini menapaki goresan itu, menatapnya lekat-lekat. Aku, Semakin mengagumi pesonanya, lalu merekam setiap lekuk bagiannya, dia memang indah. Menikmatinya berlama-lama membuat degupan jantung ini meloncat-loncat tak karuan. Sekarang aku berdiri di goresan ini bersama orang-orang luar biasa, goresan yang selalu menjadi alasan kenapa hati ini bisa melawan nafsu; melawan rasa malas, melawan rasa kantuk, melawan rasa bosan, dan melawan apa yang tidak pernah Tuhan suka.


Lalu ketika waktu terus berlari menghampiri angka 13:20 semua seakan-akan runtuh, goresan itu melemparku ke tempat dimana hati ini tidak pernah mau menyebut namanya. Aku tergeser oleh para manusia jenius itu, ah ternyata kamu begitu susah untuk tangan ini genggam. Lalu? Aku pulang. Dengan tangis? Ini masalah kecil, air mata tidak akan aku ijinkan keluar. Dengan tawa? Ini tidaklah lucu.

Mungkin nanti di tahun entah kapan. waktu akan mengantarkan kakiku kembali menapaki pesonamu, anggap saja hari itu adalah detik dimana aku tidak akan pernah mengemis akan kamu lagi pada Tuhan, 
karna kamu tidak lagi istimewa.

Banjarnegara, 14 Agustus 2015

Selasa, 28 Juli 2015


Sudah lima tahun lamanya jarak sejauh 567 kilometer membuat kita tak bisa bertatap muka atau sekilas memandangmu, melihat setiap garis lekuk wajahmu. tanpa komunikasi atau apa itu.
Kamu masih ingat ketika kita menghabiskan waktu bersama di kebun kecil depan rumahmu? atau saat kita mengoceh di depan rumah Tuhan hingga orang-orang menatap kita geram?. Aku mash ingat saat pukul empat sore, aku berteriak namamu dari kejauhan dan orang-orang memarahiku karena teriakan namamu mengganggu kedamaian rumah mereka, dan kamu pura-pura tak mendengarnya, lalu kamu menghampiriku dan mengomel tak menentu. Sedangkan aku hanya menatap wajahmu dengan penuh kebingungan, hingga esok harinya senyummu kembali kamu pamerkan didepanku, ah lega rasanya.

Kamu tahu? kadang aku iri dengan semut hitam di tembok rumahmu yang bisa memandangimu kapanpun ia mau, tidak sepertiku yang mempunyai batas waktu hanya sampai pukul tujuh malam setelah bersujud di rumah Tuhan. Kadang aku ingin menjadi awan agar aku bisa menemukanmu kapanpun itu, tapi aku hanya bisa berbisik pada Tuhan untuk selalu mejagamu, untuk selalu memberikan waktu mengisi sela-sela jarimu dengan jariku.

Kata orang, masa sekolah adalah hal yang akan kita rindukan ketika kita telah meninggalkannya, memang benar rasanya. Sepertinya aku memang mulai rindu ketika kita bertatap muka lalu saling melempar tawa di kantin sekolah, saat aku melihatmu dengan tegasnya memimpin teman-temanmu, atau ketika aku berdesak-desakan-tanganku lecet untuk bisa melihatmu di papan yang tinggi dengan kilauan lampu sorot yang begitu terang ke arahmu, semua orang bersorak mengeja namamu, namun yang ku dengar hanya suara lembutmu. Senior yang satu ini memang luar biasa.

Pada suatu detik di bulan ke tujuh, waktu mejemputku dengan manisnya, lalu mengantarkan aku ke dunia yang lebih luas, merasakan desahan nafas orang-orang baru, memperkenalkan lidahku dengan makanan-makanan asing, memamerkan banyaknya tempat pada bola mata hitamku, menapaki jalanan aspal lembut setiap harinya.Tanpa kamu.

Waktu terus menggenggam erat tanganku, menuntun langkah kaki ini melewati ribuan detik hingga angin berlarian mengabarkan keadaanmu ke telingaku, kamu terbaring lemas. Dengan jarak sejauh ini dan banyaknya tanggung jawab yang ada di pundakku, menjadi suatu penghalang aku tak bisa menemanimu melawan penyakit itu. Aku tak habis pikir, bagaimana bisa sel-sel darah merah itu bisa lari meninggalkan orang se-sempurna dirimu? anemia memang payah.

beberapa malam kemuadian ketika bulan sabit terus-terusan menyinggungkan senyumnya menghadap ke mukaku, angin bertiup lembut ke telingaku lalu membisikkan dengan lembut, kamu telah sembuh. Menang melawan penyakitmu dan pulang menghadap Tuhan.

Aku kini sedang menjelajahi banyak tempat dimana kita biasa menghabiskan waktu di tiga tahun genap kepergianmu, menikmati panasnya terik matahari di pukul dua belas-tanpa ocehanmu yang selalu menyejukan suasana.

Dari manusia yang kini selalu menyederhanakan doa dan menyelipkan namamu kedalamnya.

Banjarnegara, 29 Juli 2015.

Si Anak Soleh

Gisa Astania. Bukan artis, bukan konglomerat apalagi ustad.Cuman anak cupu SMA di salah satu sekolah di Nusantara. Nggak doyan ngupil, pernah tidur dan alhamdulillah bisa bangun. Blog ini berisi tulisan yang berasal dari sedikit imajinasi yang berdesak desakan dan nakal pengen keluar. Kata katanya sedikit fakta, sisanya absurd. Blog cupu ini akan terus nge-post sampe blognya Bang Bena yang super keren itu diculik UFO.

Follow Media Sosial & Subscribe

Subscribe via Email
Instagram Google+ Twitter